• doang.jpg

PENYULUHAN

Peran Penyuluh Tingkatkan Produksi Udang Windu

Oleh Abdul Salam Atjo *)

             Kegagalan budidaya udang terutama disebabkan oleh menurunnya kualitas air, sebagian besar areal tambak dikelola dengan teknologi sederhana secara turun temurun, padat penebaran tidak sesuai dengan kemampuan daya dukung tambak, dan munculnya persoalan lingkungan budidaya, serta tidak berfungsinya peran kelompok- kelompok tani tambak dalam memanagemen system budidaya udang yang benar dan berkelanjutan.

Pada masa keemasan udang windu bermunculan petani tambak otodidak tanpa didasari ilmu yang cukup, hanya berbekal modal yang cukup besar, sehingga memforsir lahan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Bahkan di Pinrang dalam kurung tahun 1989 hingga 1999 tercatat kurang lebih 6.000 ha lahan sawah dikonversi (dialihkan) ke tambak udang.

            Bisnis udang menjanjikan untung yang cukup besar, selain sebagai komoditi andalan udang windu (Penaeus monodon Fab.) mempunyai pangsa pasar yang luas dengan harga jual yang relative stabil di pasaran dunia. Tetapi karena lahan dipaksa untuk berproduksi yang pada akhirnya berbuntut kerusakan dan kerugian. Hanya dapat bertahan beberapa siklus, tidak dapat lestari.

Pada masa tahun 1980-an jarang terdengar berita kegagalan panen udang. Konon, pada saat itu benur yang dibeli petani tambak dari pengusaha penggelondong maupun di pembibitan udang (hatchery) telah diuji secara laboratoris oleh petugas Dinas Perikanan. Jika hasil uji itu dinyatakan bebas dari bakteri dan virus penyebab penyakit maka baru bisa diperjualbelikan kepada petani tambak. Pada saat itu petani tambak mendapat pembinaan dan pendampingan serius dari penyuluh dan tenaga block manager dari proyek FSSP yang dibiayai oleh Bank dunia khusus di propinsi Aceh, Sulsel (Pinrang, Barru, Pangkep dan Maros) dan Sultra.

Entah kenapa mekanisme pelayanan benih udang berkualitas kepada petambak beberapa waktu lalu terputus. Tidak ada lagi petugas lapangan perikanan yang menenteng alat uji kesehatan benur berkunjung ke hatchery atau penggelondong. Jarang terlihat lagi petugas lapangan mengukur dan mencatat parameter kualitas air tambak. Sehingga petambak sekarang hanya mengandalkan pengalaman secara turun temurun. Bertambak udang diibaratkan “berjudi” alias untung-untungan.

Petani tambak saat ini hanya mampu panen udang paling banyak 50-100 kg/ha/tahun (tahun 2010). Hasil panen itu hanya mampu mengembalikan biaya kontrak tambak yang nilainya berkisar Rp.2-3 juta/ha/tahun. Sedangkan untuk menutupi biaya operasional dan biaya hidup petani mengandalkan dari hasil penjualan ikan bandeng yang dipelihara secara polykultur dengan udang.

Sebenarnya keberhasilan panen udang di tambak bukan hanya ditentukan oleh faktor benur. Kondisi tanah dasar tambak, air yang ada di saluran, ketersediaan makanan alami, pakan tambahan dan faktor iklim dan cuaca turut menjadi faktor penentu.

Namun benur paling banyak menjadi pokok bahasan petani karena dapat dilihat secara fisik. Ada anggapan jika petani tebar 10.000 ekor berhasil panen 200 kg maka siklus berikut petani tebar 20.000 ekor dengan harapan bisa panen udang 400 kg. Tetapi kondisi lapangan tidak demikian. Karena semua faktor penentu ikut terakumulasi menjadi satu kesatuan. Mungkin saja ketika tebar 10.000 ekor daya dukung lahan cukup tapi ketika ditingkatkan padat tebar menjadi 20.000 ekor dengan daya dukung tetap maka tentu hasilnya tidak meningkat bakhkan cenderung menurun karena persaingan kebutuhan hidup. Hal inilah yang memerlukan penyuluhan kepada petani tambak.  

Untuk mendapatkan benur sehat dapat diperoleh dari hatchery yang telah disertifikasi. Ada sejumlah penetasan udang di Sulsel sudah mendapatkan sertifikat mutu. Namun benur yang diproduksi sulit dijangkau oleh petani. Selain faktor harga juga pengusaha penggelondong yang menyalurkannya sulit diprediksi apakah murni benur bersertifikat atau tidak.

Ke depan Sulawesi selatan kembali meraih predikat sebagai produsen udang utama di Indonesia. Program pemerintah Sulawesi selatan untuk menjadikan daerah ini sebagai produsen udang nomor satu di Indonesia akan terwujud pada tahun 2013 dengan jumlah produksi mencapai 33.200 ton.

            Target tersebut akan dicapai dengan melakukan perbaikan teknologi budidaya udang di tambak, peningkatan SDM petani dan penyuluh perikanan, perbaikan infrastruktur dan penguatan modal petambak. Teknologi budidaya, ada dua sistem budidaya udang yang dikembangkan adalah sistem budidaya monokultur udang dan sistem polykultur udang, bandeng dan rumput laut (three in one).

            Untuk merealisasikan target produksi ini ada dukungan dari potensi luas tambak sebesar 99.453 ha yang tersebar di 19 kabupaten. Namun sentra pengembangan terbesar untuk budidaya udang ada di kabupaten Pinrang dengan luas tambak 15.814 ha menyusul kabupaten Wajo, Barru dan kabupaten Pangkep. Selain potensi luas tambak Sulsel juga ditunjang oleh 35 unit perusahaan hatchery skala besar dan 100 unit hatchery skala rumah tangga.

            Sebagai sentra kebangkitan udang maka kabupaten Pinrang mulai berbenah untuk bangkit kembali dari kemerosotan produksi udang tambak akibat serangan penyakit dan sebab lainnya.    Bupati Pinrang, H.Andi Aslam Patonangi, SH, M.Si mengatakan menurunnya produktifitas tambak udang di Pinrang selama ini disebabkan kondisi kualitas air dan tanah tambak menurun, adanya serangan penyakit, minimnya kualitas SDM petani dan terbatasnya modal petambak. Kini, produksi udang di Pinrang mulai merangkak namun tidak secepat di era 1980-an. Peran penyuluh pun semakin membaik setelah terjalin koordinasi antara kelembagaan penyuluh dengan dinas perikanan.

Dengan terbitnya Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kemudian diperkuat dengan Permenpan No.PER/19/M.PAN/10/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Perikanan dan Angka Kreditnya maka semakin jelas arah pembinaan penyuluhan untuk petani tambak.

Jika selama ini penyuluh perikanan (penyuluh pertanian berlatar belakang pendidikan ilmu perikanan) ”egois” dalam membina petani karena lebih mengutamakan penyuluhan kepada petani tanaman pangan dibanding petani ikan. Cukup beralasan karena mendapatkan BOP dan sarana penyuluhan dari Departemen Pertanian. Ada Instansi atau Dinas yang menangani kegiatan proyek perikanan yang ada kaitannya dengan penyuluhan seharusnya dikawal penyuluh perikanan di lapangan tetapi kenyataan tidak demikian.

Kini regulasi tentang jabatan fungsional penyuluh perikanan sudah jelas, BOP penyuluh perikanan terealisasi dan tunjangan fungsional lebih tinggi dari sebelumnya sehingga tidak ada alasan lagi untuk melakukan tugas penyuluhan polyvalensi. Penyuluh perikanan harus berdomisili di homebase perikanan setelah beberapa tahun tidak bertemu nelayan dan petani ikan/tambak.

Tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan diharap dapat melakukan pelatihan penyuluh perikanan untuk mengasah dan mengembalikan memori pengetahuan teknis perikanan bagi penyuluh perikanan. Yang tidak kalah penting adalah memfasilitasi penyuluh perikanan dengan sarana dan prasarana penyuluhan seperti alat ukur kualitas air dan tanah tambak, pakaian seragam lapangan sebagai ciri khas penyuluh perikanan, kendaraan roda dua (sepeda motor), laboratorium lapangan (dempond), dan sertifikasi penyuluh perikanan secara menyeluruh.

Agar masa kejayaan udang windu kita raih kembali maka pola pembinaan petani tambak perlu ditingkatkan, paling tidak kita dapat mengadopsi pola pembinaan di masa proyek FSSP di tahun 1980-1990-an setiap hamparan 100-200 ha tambak dibina oleh seorang penyuluh perikanan dalam hamparan itu ada satu hektar dijadikan laboratoriun lapangan atau dempond. Selamat berkarya penyuluh perikanan kejayaan udang windu kita rebut kembali, semoga !*)penulis adalah Penyuluh Perikanan kabupaten Pinrang

Kirim Komentar


Security code
Refresh

Gallery

  • bandeng.jpg
  • daerah pesisir.jpg
  • dirjen perikanan bd.jpg
  • kapal nelayan.jpg
  • keramba.jpg
  • mina.jpg
  • mts.jpg
  • panen 3.jpg
  • penangkaran rumput laut3.jpg
  • pengasapan ikan.jpg
  • pondok wisata.jpg
  • pos1.jpg
  • tambak-udang.jpg
  • udah.jpg
  • udang windu.jpg

Alternative flash content

Requirements